![]() |
| Foto Suster Faustina Ikun TMM. Dok. Pribadi |
Nature your self berarti merawat dirimu sendiri. Hal ini dapat dijelaskan dengan perumpamaan bagaimana kita menanam sayur, bunga atau pun pohon.
Bayangkanlah, agar tumbuhan tertentu tumbuh, berkembang dan berbuah, orang harus merawatnya dengan memberikan pupuk, menyiramnya dengan air, membersihkan dan mencabut atau memotong rumput-rumput liar atau benalu yang ada di sekitarnya, bahkan berbicara dengannya sebagai seorang sahabat.
Hal yang sama berlaku juga bagi diri kita. Kita hanya bisa bertumbuh, berkembang dan berbuah kalau kita merawat diri sendiri dengan baik, memudahkan kita merawat dengan baik siapa pun atau makluk hidup lainnya yang di percayakan kepada kita.
Merawat diri sendiri tidak boleh dianggap sepele. Secara psikologis, usaha membersihkan diri sendiri dapat meningkatkan kepercayaan diri. Selalu merasa bersih dan rapi membuat diri sendiri merasa lebih spesial. Meskipun terkesan sepele, ternyata usaha untuk selalu terlihat rapih dan apik menjadi bukti cinta kepada diri sendiri loh.
“Ketika kita tahu kita memberikan yang terbaik untuk diri sendiri, kita akan menerima dan mencintai tubuh dengan lebih baik. Kita akan tumbuh menjadi orang yang lebih percaya diri lebih baik,” ujar Tara De Thouars, psikolog klinis.
Menurut Tara, dengan lebih sering merawat diri atau self care membuat hubungan intrapersonal juga meningkat. Semakin banyak waktu yang dihabiskan mengurus diri membuat seseorang semakin mengenal dirinya secara personal.
Ketika hubungan dengan diri sendiri sudah terbangun dengan baik, otomatis seseorang akan menjadi lebih percaya diri. Tidak hanya ke dalam, hubungan dengan orang lain atau interpersonal juga akan ikut meningkat.
“Ternyata self care itu akan menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kualitas hidup kita. Kalau self care artinya kita mementingkan diri sendiri. Ketika melakukan self care, kita tahu ada dampak jangka panjang dan pendek kepada diri sendiri” ujar Tara.
Sebuah aktivitas dianggap sebagai aktivitas merawat diri apabila dilakukan secara konsisten dan personal, membersihkan diri tanpa intervensi membuat komunikasi dengan diri sendiri meningkat. Syarat kedua, kegiatan membersihkan diri tersebut direncanakan secara sadar. Biasanya dengan perencanaan sebelum mandi atau kegiatan memanjakan diri lainnya.
“Sama seperti sikat gigi, ketika selesai sikat gigi kita merasa fresh dan positif. Sama juga dengan menjaga kebersihan anggota tubuh lain” cerita psikolog yang mendapatkan gelar magisternya di Australia ini.
Dalam dan melalui banyak refleksi orang-orang pintar, termasuk para ilmuwan, merawat tubuh harus secara holistik (menyeluruh). Maksudnya dalam merawat diri, semua aspek harus menjadi perhatian kita secara serius. Misalnya, agar menjadi matang secara emosional, kita harus merawat emosi kita dengan cara mengembangkan perasaan-perasaan posetif seperti damai, suka cita, kemurahan hati, kebaikan hati dan cinta kasih. Pada tataran ini, perasaan-perasaan posetif dapat bertumbuh dan berkembang menggantikan perasaan-perasaan negatif seperti amarah, kebencian, sakit hati, dendam, putus asa, dan kecemasan yang sering merusak diri kita.
Demikian juga cara kita merawat kehidupan intelektual. Kita dapat mencapai kematangan intelektual kalau kita belajar berpikir posetif, terutama ketika kita menghadapi dan mengalami pengalaman pahit yang melukai dan mengganggu cara berpikir yang sehat, benar dan posetif. Selain itu, kita juga dapat merawat intelektual kita dengan mengolah daya refleksi, belajar berpikir kritis, memperaktekkan senam otak, dan mempelajari hal-hal yang baru sehingga kita tidak cepat pikun pada saat menginjak usia lanjut.
Demikian juga cara kita merawat kehidupan intelektual. Kita dapat mencapai kematangan intelektual kalau kita belajar berpikir posetif, terutama ketika kita menghadapi dan mengalami pengalaman pahit yang melukai dan mengganggu cara berpikir yang sehat, benar dan posetif. Selain itu, kita juga dapat merawat intelektual kita dengan mengolah daya refleksi, belajar berpikir kritis, memperaktekkan senam otak, dan mempelajari hal-hal yang baru sehingga kita tidak cepat pikun pada saat menginjak usia lanjut.
Namun, satu hal yang harus menjadi perhatian serius kita lalah bagaimana merawat jiwa, hidup rohani kita, merawat kehadiran Allah dalam Rohkudus-Nya di dalam diri kita. Mungkin karena itu pepatah kuno mengatakan, “Mensana in Corpore Sano “ (jiwa yang sehat terdapat dalam badan sehat) masih relevan bagi kita. Titik tolaknya jelas, apa yang lebih dahulu di rawat oleh kita pertama-tama ialah jiwa, lalu kemudian badan. Orang yang jiwanya tidak sehat akan mempengaruhi secara negative kesehatan fisik, emosi dan intelektualnya.
Cara efektif untuk merawat Roh dan jiwa kita yaitu dengan jalan memperaktikkan pelbagai macam latihan rohani berupa meditasi, doa, novena, rekoleksi, retret dan teristimewa belajar membaca dan mendengarkan firman Tuhan melalui kitab suci agar kita memperoleh dan mencapai kepenuhan hidup sebagai pribadi yang dewasa dalam bidang iman dan kepribadian.
Firman Tuhan yang mempunyai kuasa untuk melindungi kita dari goncangan dan hempasan badai gelombang hidup yang mau menghancurkan hidup kita.
Akhirnya kita harus sadar bahwa segala sesuatu yang ada di dalam dunia tidak punya arti apa-apa, tidak punya kuasa untuk memberikan hidup kepada kita di banding dengan firman Tuhan. “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan perkataan yang ku katakan kepadamu adalah Roh dan hidup" (Yoh. 6:63).
By Agustina Ikun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar