Jumat, 25 Oktober 2019

Spent Time With The Self

Suster Agustina Ikun

Spent Time With The Self (STWS) adalah menyediakan waktu secara khusus untuk diri kita sendiri. Maksudnya ialah bahwa dengan waktu yang telah kita sediakan bagi diri kita sendiri, kita ingin masuk ke dalam diri kita, melihat diri kita, berkomunikasi dengan diri kita dan Tuhan, mendengarkan suara hati kita dan Tuhan, bertanya tentang siapa diri kita, apa yang telah kita buat di masa lalu, apa kelebihan dan kekurangan kita, bagaimana sikap dan tindakan kita selama ini terhadap diri sendiri, Tuhan dan sesama, apa yang akan kita berbaharui, apa yang akan kita rencanakan dan lakukan ke depan dan apa komitmen hidup kita hari ini dan selanjutnya.

Spent Time With The Self juga merupakan suatu momen yang sangat especial bagi kita untuk berkaca diri. Disini kita masuk ke dalam sebuah ruang yang indah untuk melihat segala sesuatu yang telah, sedang dan akan kita lakukan. Dalam kesempatan special ini focus perhatin kita diarahkan kepada kedalaman diri kita yang mencakup dua hal, yakni perasaan batin dan pikiran. Pada poin pertama kita masuk ke dalam perasaan batin kita, di sana kita akan masuk ke dalam ruang batin kita untuk merasakan atau menikmati apa yang sedang terjadi dengan perasaan batin kita kemarin, hari ini dan yang akan datang. 

Tentu saja kita akan melihat potret atau bayangan perasaan masa lalu dan hari ini. Ada perasaan senang/gembira yang membuat kita semangat dan menopang perjuangan dan karya kita. Ada pula perasaan yang membuat kita tidak gembira, lesuh, sakit dan putus asa. Tentu kedua pengalaman ini kita olah dalam keheningan waktu yang telah kita sediakan. Poin kedua, kita masuk ke dalam ruang pikiran kita di sana kita bergulat dan menguras tenaga untuk memikirkan dan mencari jalan terbaik untuk mengatasi pengalaman menyakitkan juga mencari alternatif yang terbaik demi masa depan hidup dan karya kita yang lebih baik ke depan.

Spent Time With The Self ditilik dari kaca mata iman-religius merupakan kesempatan terbaik bagi kita untuk berjumpa dan berkomunikasi secara inteks dengan Sang Allah  yang kita sembah. Di sana, Spent Time With Self menyediakan ruang especial bagi kita untuk shering pengalaman hidup kita dengan Tuhan serentak memohon kekuatan ajaib dari Tuhan bagi perjalanan hidup kita selanjutnya. Dalam ruang STWS ini kita memiliki kebebasan absolut untuk berbicara apa saja yang kita inginkan dari Tuhan. 

Dalam kesempatan yang hening dan penuh kedamaian seperti ini, kita akan sungguh merasakan jawaban dan sapaan dari Tuhan secara riil. Tuhan akan menyapa dan berbincang dengan kita melalui Suara Hati kita. Dalam hal ini, satu hal yang mesti kita lakukan ialah menciptakan ketenangan batin yang mendalam dan mengarahkan segala perhatian ke dalam kedalaman diri kita, maka di sana kita akan sungguh merasakan hadirnya Tuhan di sisi diri kita. 

Dalam kesempatan berahmat seperti ini, Tuhan akan menjawab secara tuntas segala hal yang kita sampaikan dan Ia akan mengatasi segala persoalan yang kita alami dan akan hadapi di hari-hari hidup kita selanjutnya. Oleh karena itu, hal yang mesti kita siapkan dalam kesempatan ini ialah memberi ruang konsentrasi dan ketenangan kepada diri kita dan mengajak diri kita untuk berjalan dan masuk tinggal di dalam ruang kedalaman diri kita. 

Jumat, 04 Oktober 2019

Orang Tua: Hanya Memberi Tak Harap Kembali

By: Suster Agustina Ikun TMM
Foto Suster Agustina TMM (Dok. Pribadi)

Menurut saya, Bapa dan Mama itu wakil Tuhan bagi setiap anak di bumi ini. Pendapatku ini didorong oleh alasan bahwa Bapa dan Mama itu kedua pribadi yang dipilih oleh Tuhan dan menyatukan mereka melalui sakramen penikahan untuk turut berpartisipasi dalam karya penciptaan generasi manusia di bumi ini. 

Berdasar pada pemahaman itu, saya merasa bahwa mereka berdua adalah sosok yang hebat dengan alasan bahwa mereka telah memperoleh kepercayaan dari Tuhan untuk turut ambil bagian dalam karya "penciptaan" manusia, yang kita kenal laki-laki dan perempuan. Artinya bahwa mereka pun turut berjuang sekuat tenaga memungkinkan terciptanya seorang manusia.

Upaya orang tua tidak berhenti pada tahap itu saja, tetapi justru terus berlanjut. Buktinya adalah mereka pertanggung jawabkan upaya mereka itu dengan kasih yang tak terhingga melalui menyusuinya, memelihara, menjaga, memberi makan dan mendidiknya menjadi pribadi yang kokoh.

Dalam seluruh proses itu, mereka rela membiarkan tubuh mereka disengat oleh teriknya matahari dan dihempas oleh kerasnya angin sakal demi mengais rezeki untuk membeli apa saja yang dibutuhkan anak-anaknya mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. 

Ya, mereka rela bangun di waktu ayam belum turun dari pohon demi menyiapkan sarapan untuk anak-anak. Setelah itu memberi makan dan selanjutnya menghantar ke sekolah. Proses seperti ini dilalui hari demi hari hingga anak-anak menyelesaikan semua jenjang pendidikan menengah.

Setelah itu, orang tua masih berjuang mencarikan perguruan tinggi yang baik untuk menyekolahkan anak-anak mereka agar masa depannya terjamin. 

Selanjutnya, jika perguruan tinggi pilihan orang tua maupun anak-anak sendiri itu jauh, tentu itu akan menjadi tantangan tersebdiri bagi anak maupun orang tua. Tantangan yang dimaksud tentu berkaitan dengan persoalan rindu sebagai orang tua maupun sebagai anak-anak.

Jika demikian, bagi orang tua, kadang mereka keluar dari rumah waktu subuh dan hampir pasti mereka tidak sarapan tetapi berusaha mengirim sesuatu untuk anak-anak sebagai ungkapan kasih sayang mereka. Sementara, jika tempat studi anak itu bisa dilalui dengan jalan kaki, maka apa pu tantanganya mereka rela berjalan kaki berkilo-kilo melintasi hutan dan bebatuan untuk mengantar beras, sayur, jagung muda dan beberapa potong daging goreng yang didapat dari acara adat di kampung demi anak-anak yang sedang belajar di kota. 

Lebih dari itu, kedua orang tua juga berjuang seribu satu cara agar di awal bulan, mereka bisa mengirim uang jajan, uang sekolah dan uang kos tepat pafa waktubya. Adoo... sayang mereka...!

Meskipun demikian keras perjuangan orang tua, jika orang tua terlambat kirim uang, kadang anak-anak membentak dan marah. Namun entah kenapa orang tua tidak pernah memarahi anak-anak. Mereka berdua hanya selalu berkata “sabar, nak! Bapa dan mama sedang berusaha. Bapa dan mama pasti akan kirim”. Hingga pada waktunya mereka mengirimkannya.

Lalu, anehnya kedua orang tua adalah bahwa setelah anak-anaknya selesai studi dan sukses, mereka tidak pernah menuntut ganti rugi satu sen pun kepada anak-anaknya. Malahan mereka berkorban lebih lagi urusin acara nikah anak-anaknya. Beginilah, memang aneh, tetapi nyata.

Dengan menelaah kenyataan seperti itu, saya berpikir bahwa kebehagiaan terbesar orang tua itu mungkin melihat anak-anaknya sukses. 

Bisa jadi demikian, karena banyak orang tua yang pernah saya temui sering sharingan mengalaman mereka yang sama seperti ini dan sempat memngungkapkan bahwa memang seperti itulah prinsip utama, tujuan dan cita-citakan mereka, yang mereka harapkan sejak mendirikan rumah tangga mereka. 

Maka jelaslah bahwa mengenai ganti rugi bukan hal yang mereka kejar. Mereka adalah kedua orang yang hanya berkorban dan memberi dengan setulus hati bagaikan mentari yang bersinar tiap pagi dan tak pernah mengharapkan balasan.

Jikalau demikian, menurutmu mereka itu orang gila atau orang kudus? Tentu saja, bagi saya mereka berdua adalah orang kudus, yang mempunyai hati yang sangat bening. Saya belum pernah melihat orang-orang muda atau sejenisnya di bumi ini yang memiliki hati sebaik setiap orang tua. 

Oleh karena itu, kembali lagi saya tegaskan bahwa Bapa-Mama adalah orang hebat dari orang-orang hebat lain yang pernah hidup di bumi ini, mereka adalah wakil Tuhan bagi setiap anak, mereka adalah orang yang diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk bertanggung jawab penuh pada hidup dan masa depan seorang manusia laki-laki dan perempuan yang dijadikan Tuhan dengan melibatkan Bapa & mama ini. Mereka juga adalah orang kudus.

Jasa Bapa dan Mama begitu besar bagi anak-anak, maka selayaknya anak-anak perlu sekali bersujud dan menghormati mereka sama seperti yang dilakukan umat beragama terhadap Tuhan, karena percaya bahwa tindakan seperti ini merupakan bagian dari bukti bahwa anak-anak pun mencintai dan menghormati Tuhan Allah yang hadir melalui kedua orang tua. 

Ya, lakukanlah.... Tuhan Allah tidak akan pernah marah kepadamu, jika anda berbuat demikian terhadap Bapa dan Mamamu, sebab dalam diri mereka Allah hadir.Terimakasih Bapa & mamaku.

I love you are! My honor for you are and I will praise for you every time. You are my hero. Thakns!